Page 56 - CETAK BIRU PEMBARUAN PERADILAN 2010-2035
P. 56

manusia  serta  membangun  interaksi  dengan  orang  lain,  contohnya,
            leadership, communication dan interpersonal relation. Sedangkan hard competency
            adalah  kompetensi  yang  berkaitan dengan kemampuan  fungsional  atau
            teknis  suatu  pekerjaan.  Kompetensi  ini  berkaitan  dengan  seluk  beluk
            teknis  pekerjaan  yang  ditekuni.  Contoh  hard  competency  di  lingkungan
            peradilan adalah memutus perkara, membuat salinan putusan, membuat
            laporan keuangan, dan lain sebagainya.

            Kegiatan terpenting dalam CBHRM adalah menyusun profil kompetensi
            jabatan/posisi. Dalam proses penyusunan profil kompetensi, akan dibuat
            daftar  kompetensi,  baik  soft  competency  maupun  hard  competency,  yang
            dibutuhkan dan dilengkapi dengan definisi kompetensi yang rinci, serta
            indikator  perilaku.  Profil  kompetensi  ini  akan  menjadi  persyaratan
            minimal  untuk  jabatan/posisi  tertentu  serta  akan  menjadi  basis  dalam
            pengembangan  desain  dan  sistem  pada  seluruh  pilar  SDM,  sehingga
            selanjutnya akan dapat dikembangkan:
            1.  Rekrutmen dan seleksi berbasis kompetensi;
            2.  Pelatihan  dan  pengembangan  berbasis  kompetensi.  Pengembangan
               yang dimaksud di sini termasuk rotasi, mutasi dan promosi;
            3.  Penilaian kinerja berbasis kompetensi;
            4.  Remunerasi berbasis kompetensi;
            5.  Pola karir berbasis kompetensi.
            Dengan  adanya  sistem  pengelolaan  SDM  berbasis  kompetensi,  maka
            seluruh  proses  penilaian  hakim  dan  aparatur  peradilan  (biasa  dikenal
            sebagai asesmen kompetensi  individu), akan menggunakan kompetensi
                                    27

               27  Ada beragam metode untuk mengevaluasi level kompetensi, dari mulai yang bersifat sederhana dan praktis
            hingga yang kompleks. Metode yang praktis adalah meminta atasan, rekan kerja dan mungkin juga bawahan untuk
            menilai level kompetensi pegawai tertentu, dengan menggunakan semacam kuesioner kompetensi. Kuesioner ini
            didesain dengan mengacu pada direktori kompetensi serta indikator perilaku per kompetensi yang telah disusun
            pada tahap sebelumnya.
               Metode lain yang lebih kompleks adalah dengan menggunakan teknik yang disebut sebagai competency assessment
            center. Dalam metode ini, seorang pegawai diminta untuk melakukan bermacam-macam tugas seperti melakukan
            simulasi peran, memecahkan suatu kasus atau juga menyusun skala prioritas pekerjaan. Hasil kegiatan ini kemudian
            dievaluasi oleh para evaluator yang biasanya terdiri lebih dari satu orang. Obyektivitas dan validitasnya relatif tinggi,
            tetapi metode ini membutuhkan waktu yang cukup panjang (biasanya dua hari) dan biaya serta energi yang relatif
            besar.
               Metode uji kompetensi lain yang kini juga banyak dilakukan adalah dengan menerapkan sertifikasi kompetensi
            yang dikeluarkan oleh suatu badan yang independen dan kredibel. Di Amerika Serikat misalnya, telah terdapat
                                          50
   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60   61